Tuesday, 31 January 2017

ELE 2017 dan Keriuhan yang Belum Reda



Aurelia-aurita-blog



Sampai berapa lama suatu peristiwa mampu bertahan menjadi bahan obrolan hangat yang seakan tidak ada habisnya untuk dibahas? Satu minggu? Dua Minggu? Entahlah. Hari ini adalah minggu ketiga pasca ELE dan sebelum keriuhannya benar-benar reda dan akhirnya menjadi kenangan pembuka tahun 2017, aku akan menuliskannya sedikit. Ya, sedikit dari banyak sekali cerita yang muncul berkat ELE.

Jadi tahun ini adalah giliran angkatanku untuk menjadi pelaksana Elexhibition. Elexhibition atau biasa juga kami sebut ELE merupakan singkatan dari English Literature Exhibition.

Meski sudah lewat dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 11-12 Januari tapi masih banyak rasa yang tertinggal di perhelatan tahunan anak jurusan sastra inggris UIN Alauddin Makassar ini, uhuyy. Oke mungkin bagi beberapa orang yang terlibat, iya seperti itulah.




Tema tahun ini adalah Islamorphosa. Setidaknya sampai dua minggu menjelang hari H. Jadi, saat beberapa bulan sebelumnya kami mengadakan rapat angkatan untuk menentukan tema kegiatan, ada beberapa usulan yang masuk, termasuk aku yang saat itu mengusulkan tema Islamorphosa ini. Sedihnya, banyak yang bingung dengan tema usulanku ini, bahkan saat voting, hanya 4 orang (doang) yang memberikan suara. Bahkan aku mendengar komentar semacam, "bisa gak usulnya jangan yang aneh-aneh begitu?"

And theeeen you know what? Di bulan terakhir persiapan ELE temanya diganti, dan Islamorphosa didapuk jadi tema tahun ini, huh apaan.





ELE bukan hanya pementasan yang wajib kami lakukan atas nama tugas akhir semester lima saja. ELE lebih dari itu. Meski pentasnya (hanya) 2 hari saja di bulan Januari, tapi persiapannya sendiri sudah sejak awal semester lima. Jadi kira-kira ada tiga bulan waktu kami untuk banting tulang mempersiapkan diri.

Panitia ELE terdiri dari perwakilan setiap kelas, sisanya pemain. Entah itu panitia atau bukan, masing-masing berjuang demi kesuksesan acara. 

Dan bahkan usaha kami saja rasanya belum cukup tanpa bantuan dari berbagai pihak, yang sekecil apapun bantuannya namun sangat membantu kami. Terutama para senior di fakultas Adab dan Humaniora, yang bantuan fisik dan dorongan mentalnya sangat sangat membantu kami. Apalah jadinya ELE ini tanpa mereka. Kemudian aku ingat wejangannya kak Rio,  salah seorang coach Grup 1 drama, bahwa setelah kami tahu bagaimana kesulitan-kesulitan yang kami hadapi, semoga tahun depan, saat giliran angkatan di bawah kami yang berjuang, hati kami terketuk untuk mengulurkan tangan, semampunya. 





Mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat

Ini fakta, meskipun agak memalukan diakui, bahwa sebelumnya, hubungan antar kelas di angkatan kami tidak sedekat setelah kami menjalani persiapan ELE. Serius. Selain teman kelas sendiri, kami tidak mengenal banyak di luar itu. Oke mungkin kenal wajah, tapi untuk ngobrol masih segan. Fakta lainnya adalah angkatan kami tidak merasakan malam inaugurasi karena suatu hal. Dan berkat ELE, ya hmm semoga kedekatan ini bisa berlangsung seterusnya.

Oh iya, selain mengenal di luar kelas, dengan teman kelas sendiri pun semakin dekat, lebih dekat dari sebelumnya. Bukan cuma baiknya, busuknya juga haha *evil laugh*





Ada banyak yang bisa kami pelajari dan ada banyak pengalaman yang kami rasakan. Jadi di ELE selain mementaskan drama, ada juga pembacaan puisi dan film. Dan filmnya bukan sekadar film pendek atau dokumenter. Ya ini film panjang gaes. Project film ditangani oleh masing-masing kelas. Angkatanku terdiri dari empat kelas, sehingga ada empat film yang dibuat.

Untuk penampilan drama, dibuat empat kelompok yang anggotanya diacak dari empat kelas. Dan aku kebagian grup 1 drama. Untungnya aku sekelompok Tillah dan Ipul, sehingga mengurangi kekhawatiranku ditempatkan dengan banyak orang baru. Ya tahulah aku bagaimana anaknya.

Kelompok drama ini kemudian dibagi lagi menjadi dua untuk pembacaan puisi. Jadi sebut saja ada empat kelompok drama, masing-masing dipecah dua sehingga total ada delapan grup puisi. Jadi selama dua hari perhelatan ELE akan ada 4 film, 4 drama, dan 8 puisi. 

Untuk latihan drama dan puisi baru benar-benar aktif dilaksanakan memasuki pertengahan bulan Desember. Kalau kami semua berpengalaman sih masih mending. Ya kali. Tapi bersyukurlah kami ditangani oleh pelatih-pelatih yang sabar dan lihai. Banyak dari kami merasa ini adalah pengalaman pertama kami bersentuhan dengan dunia pertunjukan. Terutama aku. Ya gaaeeess aku yang tiap harinya kaku sekali dan tidak ada ekspresi, setelah ELE? Tidak banyak berubah sih hahaha. Kan jadi figuran. Kendala utamaku, aku akui, suaraku. Suaraku sangat sangat lembut dan halus... kalau diam. Haha. Serius. Suaraku sangat kecil dan kalau dipaksa teriak akan terdengar sangat jelek. Saat pembacaan puisi diriku sangat kepayahan. Tapi Alhamdulillah, bisa kulalui dan tidak mengacaukan penampilan grup kami. 

Teruntuk kak Arang, kak Rio, dan bang Jul (sekiranya kalian membaca ini, tapi semoga saja tidak! Haha) terima kasih atas bimbingannya dan atas waktu, tenaga dan pikiran yang kalian curahkan baik untuk grup 1 serta keberlangsungan ELE. Oh iya, maaf aku terlalu banyak tingkah. 

Drama yang kami tampilkan sesuai tema Islami tahun ini adalah Kingdom of Heaven. Itu untuk grup 1 drama. Tiga drama lainnya adalah The Preacher, Muhammad SAW The Last Prophet, dan Fetih 1453

Aurelia-aurita-blog1
Aurelia-aurita-blog2
Aurelia-aurita-blog3
Aurelia-aurita-blog4
Aurelia-aurita-blog5
Aurelia-aurita-blog6
Aurelia-aurita-blog7
Aurelia-aurita-blog8

 
Tulisanku mungkin cukup sampai disini,
 tapi cerita tentang keriuhan ELE akan selalu terkenang *tjiaah


Terakhir, (aku mohon) izinkan aku mengutip Kak Kayyis dalam salah satu unggahannya:

Setelah ini, kita akan saling melupakan. Entah sesuatu tentang HT yg lowbatt, pentul yg tak cukup atau boot yg kekurangan meja. Tapi tak apalah. Jika nanti kau buka satu atau dua file foto tentang ini, ingatlah, kita pernah terlalu bahagia.

Islamorphosa!