Tuesday, 8 November 2016

Perempuan Patah Hati yang Kemarin Kehilangan Bukunya di Leang-leang




Jadi beberapa minggu lalu aku jalan-jalan ke Kabupaten Maros tepatnya di salah satu taman prasejarahnya, Leang-leang. Ke sananya berempat sama Riri, Mute, dan Arjum. Gak dalam rangka apa-apa sih, cuma mau ke sana aja, refreshing. Sebenarnya ini kali kedua aku ke sana, Februari kemarin kan sempat ke sini juga. Cuma DUA KALI mana bisa puas keliling Leang-leang.

Malam sebelumnya aku begadang bikin orderan scrapframe, itupun masih lanjut pagi harinya, trus mandi dan langsung cus ke Leang-leang. Makanya pas sampai di sana aku mager, pengennya baring terus.

Apalagi bertepatan hari Minggu, banyak anak-anak sekolahan study tour ke sini kan, duh, bikin gak leluasa. Jadi, sembari menunggu pengunjung sepi, kami menepi di taman yang terletak di seberang sungai, yang sering ke sana pasti tahu tempatnya.

Dengan Ummah

Sampai sore aku tidak beranjak dari sana, menghindari teriknya matahari. Selain itu, mana sanggup move coba kalau dibuai angin sepoi-sepoi begitu. Jadi, aku jauh-jauh dibawa ke Leang-leang cuma nyender di bawah pohon sambil baca bukunya Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Trus gimana dong? Soalnya udah posisi wuenak banget. Hahaha.


Malah di bawah pohon itu aku berhasil menyelesaikan buku tersebut. Akhirnya punya situasi yang kondusif untuk membaca novel tanpa merasa dibebani pikiran tentang tugas-tugas kampus, ehh, tugas? Apa itu tugas? Kata kerja kah? Kata benda? Uh.

Novel PPHKMCMM (maaf disingkat, mlz ngetiknya mz/mb *&%@$#$@!) merupakan kumpulan cerpen, yang andai ini kedai makanan, aku dengan senang hati berkunjung ke sana setiap waktu, memesan semua menunya, dan menikmati setiap kunyahanku. Eh. ANALOGI MACAM APA INI?

Oke, serius.

Aku suka buku ini.

Hampir sama sukanya seperti mendengar ceritamu, Om.

Kenapa hampir? Karena meski buku ini sangat bagus menurutku, tapi ceritamu tidak pernah terhalang lembaran-lembaran kertas HVS. Ceritamu bisa kautorehkan di mana kau suka, sepanjang apa kau mau. Oke ini gombal hahaha.


Ada 15 cerpen yang tidak biasa-biasa saja di dalamnya, yaitu:



Gerimis yang Sederhana (2007)

Gincu Ini Merah, Sayang (2007)

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2012)

Penafsir Kebahagiaan (2007)

Membuat Senang Seekor Gajah (2014)

Jangan Kencing di Sini (2012)

Tiga Kematian Marsilam (2006)

Cerita Batu (2014)

La Cage aux Folles (2007)

Setiap Anjing Boleh Berbahagia (2013)

Kapten Bebek Hijau (2011-2013)

Teka-Teki Silang (2006)

Membakar Api (2009)

Pelajaran Memelihara Burung Beo (2007)

Pengantar Tidur Panjang (2009)

Tahu kenapa judul postingannya Perempuan Patah Hati yang Kemarin Kehilangan Bukunya di Leang-leang?

Sebab bukunya memang hilang di sana. Hiks.

Setelah bersenang-senang di bawah teduhnya pohon, ditemani angin syahdu yang sesekali mengundang kantuk, di saat aku tersenyum-senyum setelah menghabiskan setiap lembaran ceritanya, buku itu menghilang. 

Sebenarnya sebelum keluar dari Leang-leang aku cek tasku, dan tidak menemukan buku tersebut, aku dengan pede-nya mengira buku itu mungkin terbawa di temanku yang lain. Sotoy, haha. Padahal yang bawa tas ke sana hanya diriku.

Rasanya kok kayak gak rela ya? Hahaha.


Instagram Ekha Nurul Hudaya (@ekhanurulh)

Di antara kumpulan cerpen tersebut, aku paling suka dan paling ingat dengan cerpen Cerita Batu, Kapten Bebek Hijau, dan Teka Teki Silang.

Tulisan Eka Kurniawan tidak akan pernah bisa kutolak. Sebelum membaca cerpen Cerita Batu itu misalnya, aku juga pernah berandai-andai, kira-kira, apa yang dipikirkan sebongkah batu yang setengahnya tercelup di sungai, membelokkan arus air (tentu saja pikiran itu kunikmati sendiri, entah bagaimana cara membaginya dengan orang lain). Bagaimana? Apa batu tersebut sangat menikmati pijatan air, atau malah khawatir tubuhnya meringkih terkikis air, membuatnya mengecil.

Cukup itu aja sih.

Jadi, kapan kita ke Leang-leang bareng?