Thursday, 20 October 2016

Balada Nama



Nama saya Ekha.
Nama panjangnya Ekhaaaaaaaaa.
Nama lengkap? Ekha Nurul Hudaya.

Yang benar itu Ekha.
Kalau menuliskan namaku, tolong jangan sampai salah. E-K-H-A. Iya, ada huruf H di depan K. Biasa ya, ada yang cuma menuliskan E, K, dan A doang, gak pake H. Kadang-kadang, saya protes “Apa susahnya menambahkan satu karakter lagi?”, lalu kebanyakan jawabannya seperti ini: “Apa pengaruhnya coba huruf H-nya itu?”. 

Tapi iya, saya juga pernah berfikir. Apa pengaruhnya? Ekha dan Eka kan homofon? Kenapa sampai protes?

Menurutku itu adalah hakku untuk protes, bahkan harus. Saya tidak mungkin menunggu sampai terjadi kesalahan semisal tidak lulus suatu tes karena terjadi data error. Ya kan?

Alasan lainnya, aku sangat menghargai nama pemberian orangtuaku. Melihat kesalahan penulisan namaku di dokumen tertentu,  absen atau pengumuman, rasanya ada sesuatu yang kurang mengenakkan *tjiaah

Jadi, saya lebih suka dipanggil Ekha, meski dipanggil makan juga ayok banget.

Antara Hidayah, Hidayat, dan Hudaya.

Jika perihal nama depanku saja kadang menimbulkan drama, lain lagi dengan nama belakangku. Teman-temanku kadang bertanya untuk memastikan penulisan namaku yang benar, “pake Hi atau Hu?”, maksudnya Hidayah atau Hudaya. “Ujungnya h, t, atau gak ada?” . Soalnya ya, nama belakangku ini bukan nama keluarga.

Sebenarnya aku sendiri mengakui ketiga versi tersebut sebagai nama belakangku. Tapi harus dilihat sikonnya dulu lah. Kalau untuk database wajib dan penting seperti KTP, pendaftaran formal, kegiatan perkuliahan, atau sejenisnya, yang digunakan harus lah Ekha Nurul Hudaya. Sesuai yang tertera di akte kelahiranku. 

Waktu SMP dan SMK saya cenderung menggunakan nama belakang Hidayat, kecuali saat UAS dan UN. Kalau nama belakangku yang benar adalah Hudaya, kenapa muncul Hidayah dan Hidayat? Itu semua ada sejarahnya.

Pengetahuan pertama saya untuk nama lengkap adalah Ekha Nurul Hidayah. Yah. Terdengar anggun. Tapi saat mulai masuk di TPA (kelas 3 SD), kakak ustazah selalu menuliskan Hidayat hingga saya tamat TPA dan lulus SD.

Memasuki bangku SMP, saya sedang gila-gilanya dengan bulu tangkis. Makanya nama belakang Hidayat  masih kubawa-bawa atas dasar kecintaanku pada bang Taufik Hidayat.
Tapi itu dulu.

Sekarang saya sadar dan terbiasa untuk konsisten pada nama, nama yang telah terpatri di Akte Kelahiran, Ekha Nurul Hudaya,  meski saya diakikah dengan nama belakang Hidayah.

Didukung kejadian saat masih usia belasan. Saat itu saya bertemu dengan seorang ahli Feng Shui yang jam terbangnya sudah tinggi. I really don’t stand for it but, karena banyak teman yang konsultasi dengan si ahli fengshui, saya jadi iseng ikut bertanya. Mumpung gratis.

Kalau yang lain bertanya soal jodoh dan hoki, saya justru meminta pendapat si ahli Fengshui perihal nama belakang. “Ci, cocok mana penulisan nama saya untuk profil BBM?” (sumpah iseng sekali pertanyaannya). Ini daftar yang saya perlihatkan ke cici fengshui.
Ekha Nurul Hidayah     
Ekha Nurul Hidayat      
Ekha Nurul H   
Ekha Nurul Hudaya      
Ekha NH
Setelah cici fengshui melihat, meraba, dan menerawang, si cici bertanya nama di KTP yang mana. “Kalau dilihat lagi, nama Ekha Nurul Hudaya lebih membawa aura positif untukmu, jadi gunakan selalu nama itu” begitu kira-kira jawabannya. Masuk akal sih. Masuk akal sekali -_-
Maksud si cici fengshui barangkali, “Yaelah, pakai nama asli sajalah, dik, jadi diri sendiri di profil medsos, apalagi untuk urusan administrasi. Ganti nama repot lho.” Iya, ci, iya.

Itu sih.

Intinya, Ma, Pa, saya suka nama pemberian kalian.

Depan Laptop Acer Kesayangan, Oktober 2016.