Friday, 9 September 2016

Selamat Datang Adik-adik Maba






SELAMAT MENEMPUH HIDUP SEMESTER BARU GAES.

Saya sendiri sudah memasuki semester 5, huaah how time flies

By the way, selamat datang adik-adik maba yang minggu lalu selesai di ospek ciee, selamat berjuang dalam studi, selamat bergulat dalam perantauan, dan selamat bertemu orang-orang baru, ya pokoknya usahakan sampai di “tujuan” dengan selamat hahaha.

Karena oh karena kita tidak tahu, hal apa yang menanti di depan kita.

Tapi kita semua tahu fakta bahwa kehidupan SMA/sederajat berbeda dengan kehidupan perkuliahan. Ada orang yang secara mentalitas belum siap, akhirnya menyerah dan berhenti di tengah jalan, astaga bro begini, kalau mau berhenti di pinggir jalan dong, biar gak bikin jalanan macet, ih apakah Ekha, krik krik.


Kalau bisa diumpamakan nah, kalau bisa, memasuki kehidupan kampus seperti mengikuti The Hunger Games. Kita lagi hidup asyik masyuk tiba-tiba nama kita yang  keluar undiannya. Kalau undian arisan sih enak, bisa pergi kanmakan, tapi disini kita harus berjuang, mau tak mau harus belajar cara untuk bertahan hidup, juga bertahan menahan godaan. Terutama bagi anak-anak perantauan yang jauh dari keluarganya.

Di The Hunger Games, ada sejumlah aturan main yang dirancang oleh Capitol. Begitu pun di kampus, kita semua berada dalam lingkaran, persegi, segitiga, atau apa pun bentuknya, kita mahasiswa berada di dalam BATAS yang telah dibuat oleh birokrasi. Yang perlu kita lakukan hanya menjaga langkah agar tidak offside, patuh sebagaimana seorang pengendara diatur marka jalan yang bisu. Jadi kedengarannya seperti mahasiswa bukan mengikuti sistem, tapi bagian dari sistem itu sendiri. Eh bicara apa saya ini.

Dan lagi di The Hunger Games, aturan sempat diubah seenak jidat demi mendongkrak sensualitas permainan, demi kepuasaan penonton, tanpa membuka mata dengan penderitaan dan resiko yang dihadapi para tribut, ah jangan lupa tribut-tribut ini punya keluarga. Bayangkan anak-anak kalian, yang masih muda, diambil secara acak mewakili distrik untuk kemudian diadu, ini manusia, bukan ayam jago men.

Jika di filmnya para tribut mau tak mau harus membunuh atau dibunuh secara harfiah, tapi di kehidupan kampus, yang bisa saja terbunuh adalah kebebasan, atau yang paling sedihnya, karakter. Karakter mahasiswa akan perlahan-lahan mati suri. Sebenarnya karakter itu sendiri apa? Kebebasan apa? Entahlah. Seseorang tolong jelaskan.


Kalau diumpamakan lagi, duh maafkan, dari tadi saya bisanya cuma berumpama. Kita semua adalah anak yang disuapi ikan teri, dari kepala, badan sampai ekor semua masuk ke mulut, bodo amat ikan terinya digoreng atau direbus, dipancing di laut atau dibeli di pasar. Seperti itu. 

Terlepas dari itu, terserah kalian sih bagaimana menginterpretasinya, atau kalian mau berbagi pemikiran? Boleh lah. Kebetulan saya suka mendengarkan.

Dear adik-adik maba, selamat menyandang gelar “maha”siswa, belajarlah dengan baik, kalian harus dan pasti bisa lebih baik.

Jangan jadi saya. Jangan. Ah apalah saya ini, hanya acar di meja prasmanan.


Anyway, sekali lagi selamat datang di semester baru!