Thursday, 14 July 2016

Buku Ini Saya Pinjam


Saya menemukan buku Dewey: Kucing perpustakaan kota kecil (Vicki Myron) ini di salah satu rak –yang sepertinya cukup terpencil untuk ukuran bacaan ringan) sedang buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (Pramoedya Ananta Toer) entah saya temukan di rak mana, begitu keluar dari perpustakaan tau-tau sudah bawa pulang 2 buku.

Saat itu, seperti biasa saya nongkrong di parkiran perpustakaan, menunggu pergantian jam kuliah, kalau tidak salah (berarti benar dong ya) awal semester 3. Wait.. itu kan SEPTEMBER TAHUN LALU! Iya, iya saya tahu, biasa aja dong, gausah ngecapslock.
Peminjaman buku di perpustakaan kampus adalah 10 hari dan lewat dari batas waktu akan dikenakan denda Rp1,000 per hari –kecuali masa peminjamannya diperpanjang. Kira-kira berapa ya denda untuk keterlambatan 10 bulan?

Terbesit rasa bersalah karena menahan koleksi perpustakaan terlalu lama –padahal bukunya cuma 2 hari selesai dibaca. Apakah selama 10 bulan meminjam buku itu saya baca berulang-ulang? Of course not. Bayangkan jika ada orang lain diluar sana yang mencari buku tersebut?

Berdasarkan hal tersebut saya menyimpulkan yang telah saya lakukan
adalah jahat.
Mari kita bayangkan jika seluruh mahasiswa pengunjung perpustakaan melakukan hal yang sama seperti saya, maka muncullah beberapa persoalan. Pertama seperti yang saya singgung diatas, ketidakadilan hak sesama pemustaka dalam mengakses buku, persoalan kedua adalah terganggunya fungsi utama perpustakaan sebagai ruang penyimpanan buku sekaligus penyedia ruang baca. Seperti itu saudara saudari.

Jadi tinggal bagaimana kesadaran masing-masing aja sebagai sesama pemustaka. Termasuk kamu Ekha! Iya iya, masuk semester 5 nanti bukunya dibalikin. Wait, itu berarti bukunya masih akan tertahan dong sampai bulan ke 12? Sigh.


98 hari denda 50.000 rupiah

Sebenarnya itu bukan kejadian pertama. Tahun lalu saya juga telat mengembalikan buku perpustakaan, selama 98 hari. Semakin membenarkan kalau saya bukan pemustaka yang baik. Alasannya saya sibuk final semester 2, pas finalnya kelar, eh lupa dikembalikan dan buku itu akhirnya tertahan lagi selama libur semester, hampir 3 bulan lamanya.

Karena takut diomeli sama petugasnya, saya pergi ditemani Risa Saraswati Sabirah. Ada 3 petugas di bagian peminjaman buku, saya pilih yang mukanya paling teduh seteduh lagu-lagunya Payung Teduh kalau bisa lah –tips: sebisa mungkin hindari wajah jutek!

Dan untung saja petugas wanita yang paling ujung cukup ramah. Meski sempat ditanya-tanya kenapa lama mengembalikan buku, saya menjawab dengan nada minta dikasihani, “Beberapa hari sebelum libur semester, perpustakaannya cepat tutup  jadi saya tidak sempat kak”,  Risa disamping saya cengar cengir gaje.

Meski dengan wajah yang lebih memelas dari kucing minta makan, saya tetap kena denda. “98 hari ya dek, dendanya seribu per hari”, ah bayangkan Rp98.000 bisa untuk hidup berapa hari? “Yaudah kamu bisa bayar 50.000 aja dek. Lain waktu kembalikan bukunya sesuai jadwal ya, jangan banyak alasan”. Saya sumringah, meski 50 ribu rupiah masih terasa banyak, itu salah saya sendiri sih.

Mohon jangan ditiru ya mantemans.



Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (Pramoedya Ananta Toer)

Sumber gambar klik disini

Sebuah buku adalah sebuah kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000  kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.
Pramoedya Ananta Toer lewa buku ini menuturkan sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia-manusia Pribumi. Pemeriksaan yang cukup detail dan bercorak tuturan perjalanan ini, membiakkan sebuah ingatan yang satire, bahwa kita adalah bangsa kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain?
Satu lagi buku yang menguak sejarah tragedi terbesar, terkoyaknya kita sebagai sebuah bangsa yang kawasannya luas, kaya, tapi selalu kalah dalam segala hal.

Terus terang buku ini adalah buku Pramoedya Ananta Toer yang pertama saya baca. Dan lagi saya jujur, buku ini terlalu berat untuk saya hanyut ke dalamnya, meski berhasil membaca tuntas 136 halaman isi (mulai halaman 5  - 141).

Bisa jadi karena buku ini diluar genre bacaan saya semenjak smp (membaca buku ini mengingatkan saya akan pelajaran sejarah di bangku sd dan smp dulu –karena saat smk tidak ada mapel sejarah). Atau bisa jadi saya terlalu memaksakan diri untuk mendalami buku ini dengan otak pas-pasan.

Bisa jadi. Eh saya setuju di bagian “terlalu memaksakan diri” tadi. Saya penganut sekte tidak-baik-jika-terlalu-memaksakan-diri. Seperti memaksakan perasaan kamu ke aku contohnya?

  Dewey: Kucing Perpustakaan Kota Kecil (Vicky Myron)
  
Sumber gambar klik disini


Bagaimana mungkin seekor kucing buangan mengubah sebuah perpustakaan kecil menjadi daya tarik wisata, memberi inspirasi penduduk sebuah kota, mempersatukan warga di seluruh kawasan dan pelan-pelan menjadi terkenal di seluruh dunia?
Kisah Dewey si kucing malang dimulai dengan cara paling menyedihkan. Umurnya baru beberapa minggu ketika pada malam terdingin tahun itu dia dimasukkan ke sebuah kotak pengembalian buku perpustakaan umum Spencer, Iowa, oleh orang tak dikenal. Dia ditemukan keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron, orangtua tunggal yang berhasil bertahan dari kehilangan tanah pertanian, penyakit kanker payudara, dan suami yang kecanduan minuman keras. Dewey kemudian berhasil mencuri hatinya dan hati para pegawai perpustakaan, serta menaklukkan mereka semua dengan kasih sayang.

Kesan utama setelah membaca buku ini adalah: saya sangat iri.
Sangat. Iri.
Iri pada Spencer, kota kecil di Iowa, Amerika Serikat. Karena mereka punya perpustakaan yang menyenangkan. Karena mereka punya Dewey.  Karena perpustakaan mereka sangat dekat dengan anak-anak.



Setia Karena Nyaman

Ngomong-ngomong fungsi perpustakaan sebagai penyedia ruang baca, penyebab krusial (wih bahasanya bu) orang-orang memilih meminjam buku untuk dibaca diluar perpustakaan, bisa jadi, karena merasa kurang nyaman berada di perpustakaan. *personal opinion*

PENDAPAT JUJUR sebagai pengunjung perpustakaan kampus, saya tak pernah berada di perpustakaan lebih dari tiga jam. Alasan utamanya karena lighting alias pencahayaan di meja baca, kadangkala juga alasan meja dan kursi di perpustakaan selalu penuh (Ya kali kita tahan membaca berjam-jam sambil berdiri).

Cuma itu sih, jadi bukan karena koleksi perpustakaan UIN Alauddin Makassar yang kata banyak mahasiswa dan alumni cukup kurang memadai, meski saya juga tidak menampik hal tersebut. Oke kartu sudah dibuka di atas meja gaes.

Tapi kita semua tahu UPT Perpustakaan sedang gencar melakukan perbaikan saat ini. Saya sudah tidak sabar menyambut perpustakaan kita di tahun perkuliahan yang baru.

Kalau saya pikir lagi, apalah saya berbicara seperti ini. Mengembalikan buku perpustakaan tepat waktu saja susahnya minta ampun :(

Betul-betul apalah saya ini, cuma buih-buih Coca Cola di canteng putih.