Wednesday, 15 June 2016

Adjektiva Peka (1)




Saya adalah tipe cewek kadang peka-kadang tidak. Kalau lagi gak peka, mau dikodein sama abang-abang Super Junior juga tidak bakal digubris, tapi kadang pekanya keterlaluan (pake banget). Contohnya seminggu yang lalu, saya –berencana menghibur diri, menonton beberapa film dan di akhir cerita, saya ngotot mendapat penjelasan mengenai logika plotnya –err, niat awal pengen menikmati ceritanya, malah keki sendiri.

Attack on Titan Movie (1 & 2)

Pernah liat animenya sekaligus baca komiknya beberapa episode awal tapi nyerah, gak sanggup hiks tapi masih penasaran, gimana dong? Yaudah saya tunggu versi live-actionnya keluar. Eh ternyata setelah menonton sekuelnya saya masih dirayapi tanda tanya. Menyebalkan. 



Konon di  suatu masa, manusia sudah ratusan tahun dijajah oleh titan –raksasa pemakan manusia. Manusia yang bertahan harus hidup di balik tembok besar. Tiga lapis tembok yang cukup tinggi dan tebal untuk berlindung dari titan. Wujud titan menurut saya seram dan ngeri banget kalau mereka muncul. Adek-adek saya yang ikutan nonton sampai menutup mata pake tangan sambil sesekali bilang “eww”, saya sih ngeri juga tapi stay cool, padahal sambil makan –bodo amat.


Di film pertama, titan akhirnya berhasil menembus tembok pertama dan memakan banyak manusia. Eren dan Armin, juga beberapa warga berhasil lolos hidup-hidup dan dievakusi ke dalam tembok berikutnya. Disini pemerintah mulai membentuk pasukan khusus untuk membunuh titan. Ya, ini perang manusia melawan makhluk mutan. *bukan spoiler kok*
Di film kedua, Eren berubah menjadi titan setelah ditelan hidup-hidup seorang seekor sesosok titan. Hiks ganteng ganteng titan L Nah di film finalnya ini, mulai terkuak fakta asal usul titan. *spoiler alert* Ternyata yang menciptakan titan adalah komandan  mereka yang merampas formula titan dari ayahnya Eren. *spoiler end*

Poin pertama: Kalau ayahnya Eren tahu yang dibuatnya berbahaya seharusnya dimusnahkan sebelum komandan culas itu merampasnya. Tapi saya maafkan sih, soalnya kalau titan gak jadi diciptakan, trus jadi apa film ini? Hahaha

Poin kedua: Setelah mengetahui fakta asal usul titan, yang ternyata baru dibuat saat Eren masih bocah, saya kesal. Karena setahu saya, di awal disebutkan kalau manusia dijajah titan ratusan tahun lamanya. Emangnya Eren setua apa?

Saya hanya tahu sedikit versi anime dan komiknya bagaimana, tapi menurut saya jalan cerita live actionnya seperti yang tadi disebutkan, agak mengada-ada. Memang banyak yang mereview live action movie ini tidak cukup memuaskan.

Crimson Peak

Filmnya biasa aja lumayan menghibur. Tipe film yang bisa dinikmati sambil lalu, bukannya diambil pikiran. Tapi ya namanya juga sedang peka banget waktu itu, hm gitu deh. Saya bertahan menonton film ini karena ada Jessica Chastain dan Mia Wasikovska-nya.
Di awal cerita saya dibuat berdebar-debar ketika Edith Cushing (Mia Wasikowska) saat berusia 10 tahun mendapat peringatan dari arwah ibunya yang meninggal karena kusta. “Becareful of Crimson Peak”. Jika arwah ibu yang mengingatkan anaknya akan bahaya yang mengancamnya saat dewasa nanti, biasanya itu karena ada kutukan tertentu dalam keluarganya dan Edith yang akan mewarisinya.

But there’s no any curse at all. Peringatan dari arwah ibunya itu cukup mengganggu jalan cerita menurut saya. Apalagi yang nonton sedang peka tingkat expert.

And another annoying thing adalah semua penampakan yang terlalu lebay. Bahkan ibunya saat datang memberi Edith peringatan muncul dengan penampakan yang sangat lebay seramnya. Bahkan saya sempat salah mengira arwah ibunya ini yang akan menjadi pelaku teror. 

Jalan ceritanya mudah ditebak. Sejak awal kemunculannya, saya langsung tahu Lucille Sharpe (Jessica Chastain) adalah biang kerok dan saudaranya, Sir Thomas Sharpe (Tom Hiddleston, entah ada hubungan apa dengan Daniel Huttlestone, tapi kayaknya gak ada, secara namanya cuma saya paksakan mirip) adalah adik penurut yang melakukan apa pun permintaan kakaknya

karena..

karena mereka berdua saling mencintai. *tiba-tiba lagu Cinta Terlarang-nya The Virgin mengalun. “Rasa ini sungguh tak wajar.. namun kuingin tetap bersama dia”


Repot juga kan kalau lagi peka -_-