Thursday, 2 July 2015

Wisata Karst Rammang-Rammang Maros

Berita basi. Warning. Expired detected.

Aku ingetin yah, ini tuh cerita kedaluarsa,
tapi kenapa masih lanjut baca juga? Kenappa?
Ceritanya memang sudah out of date,
tapi karena pernah niat mau posting dan tidak ada salahnya juga jadi tidak mengapa lah.



Sourcenya dari mas wiki, jadi kalau kurang puas info jelasnya kesana aja ya. Hehe.
Ada yang menarik saat beberapa bulan yang lalu kami ke sana.
Karena saat itu awal mei dan kadangkala hujan, otomatis becek kan, ceweknya rata-rata pakai sneaker tapi untungnya semua pakai jaket.
Sampai di medan ternyata sepatu sangat sangat tidak cocok! 
Sebaiknya ya memakai sendal hiking/trecking gear supaya pijakan lebih nyaman,
dan nggak sedih juga liat sepatu kets andalan lo di keroyok lumpur.
Pakai tidak pakai jaket itu terserah kalian dan ketahanan tubuh kalian sih ya.

Saat itu kita yang menuju ke telaga bidadari harus melewati area tanah gambut dengan lumpur bisa sampai paha. Ya kali kalau lo tinggal mungkin bisa .. whushh

Jangan sok mau lepas alas kaki begitu liat sepatu lo yang menyedihkan.
Karena di kawasan karst pastilah banyak bebatuannya yang tajamnya lumayan 😂

Di tujuan selanjutnya yaitu di mata air berlian dan gua (lupa nama guanya) yang juga memanjakan mata. Harus menggunakan jasa perahu mesin (alat transportasi utama) sepanjang sungai tapi rawa-rawa gitu. Ngeri-ngeri sedap.

Yah saya bisa menjamin, kalian akan sangat menyukai tempat ini! Pokoknya bakalan suka.
Banyak spot keren lho. Belum lagi tempat ini terbesar ketiga di dunia setelah china dan vietnam.
Baru seperempat jalan ya kita udah pada kumal.
Eh sampai di gunung karstnya, masa kita kalah,
malah ada mbak-mbak pake selop ya ampun, di tanah becek karena gerimis? Amboii.

Peringatan buat kalian ya.
Entah saya ini pantas atau tidak mengingatkan kalian, yang jelas saya merasa harus menyampaikannya *emang apaan sih kha?
Manusia memang suka menikmati yang indah-indah. Menikmati.
Menjaganya itu yang kayaknya mereka saling menunjuk.
Please jagalah lingkungan, minimal urus sampah lo sendiri.
Jadi ingat cerita tentang gunung dan laut *kayak judul lagu payung teduh haha

Banyak pendaki "karbitan" yang memaksakan diri naik, foto-foto, nulis pesan-pesan titipan tapi juga nitip sampahnya digunung. Emang gunungnya bisa buang sampah apa? Haha lol.

Tidak semua pendaki gunung dan penikmat alam itu mencitai alam.
But everyone of nature-lover does.
Eh kayaknya ada yang aneh dari quote-ku barusan haha.
Intinya nih ya mencintai alam bukan soal lo punya banyak foto di instagram pelesiran di alam bebas, bisa nulis pesan dari ketinggian gunung, jalan-jalan santai dipantai.

Tapi segalanya cyin, segala yang bisa kalian usahain untuk alam.
Mengolah sampah, menghijaukan lingkungan, diet plastik dan banyak lagi.
Yah semua tujuan besar dimulainya dari langkah-langkah kecil guys.
Think globally, act locally.