Thursday, 2 July 2015

Berbakti Sosial


Suatu siang saat sedang duduk-duduk di halte menunggu jemputan,
tidak sendiri sih ada juga seorang mahasiswi yang nampaknya dari fakultas yang sama *secara haltenya emang didepan fakultas* cuacanya sangat gerah dan sayu. Banyak dedaunan gugur di halaman parkiran. Dan anginnya itu loh, menggoda sekali. Bawaannya mau tidur, tapi nggak mungkin di halte juga kan. Lol.

Tiba-tiba saya dikagetkan dengan teriakan-teriakan dari fakultas sebelah,
lumayan sih jaraknya, tapi kedengaran sampai di telinga saya dan teman menunggu saya.
"Itu ada apaan sih, demo, yak?" Tanyaku basa basi dan sksd.
"Bukan demo deh keknya. Soalnya bawa-bawa sapu lidi sama karung gitu".
Akhirnya rasa penasaran kami terjawab saat rombongan berkarung tersebut sampai di kawasan fakultas kami.

"Wahai anak muda, beginikah cara kalian peduli pada lingkungan? Sampah ini saudara-saudara, sampah yang menumpuk dari sikap apatis kalian...bla bla bla"

Seketika saya dan teman seperjuangan menunggu jemputan tertawa tertahan tapi cukup membuat sebagian dari mereka melihat ke arah kami. Yaelah, mereka pake acara mendekat. Sekitar belasan pemuda yang mengatasnamakan pejuang lingkungan mengelilingi halte. Dan mulai meneriakkan berbagai kalimat, mengeluarkan uneg-uneg mereka kepada orang yang kurang tepat.

Well, kenapa saat awal kedatangan mereka kami menahan tawa mendengar orasinya?
Karena sebenarnya fakultas saya ini cukup cukup bersih dari sampah yang berserakan. Yang ada malah daun -daun gugur karena angin. Jadi mereka cuma memungut sampah lapuk dan daun-daun gugur. Next, kenapa saya bilang mereka menumpahkan uneg-unegnya kepada orang yang kurang tepat? Karena di fakultas saat itu tinggal sedikit orang lalu lalang, jadi kalau mau orasi efektif setidaknya massanya banyak biar sekaligus semua mendengarnya.

Dan saat mereka berbondong mengelilingi halte memungut sampah daun, saya hanya berdua dengan mahasiswi tadi. Dan yang buat kami sangat ingin melabrak mereka, karena mereka terus mencerca kami dengan kata-kata yang parah, seolah mereka adalah makhluk innocent setelah keliling dari fakultas satu ke fakultas lain memungut sampah. Saya yang sedang mengangkat hape karena sedang membaca sms dari bapak saya tak luput disindirnya "Yah mungkin kita lebih punya banyak waktu untuk update status daripada menjaga lingkungan sekitar" ujar salah seorang partisipan. "Atau mungkin hati kalian memang sudah tidak ada untuk bertindak", tambah partisipan lainnya. Kamvret.
Sedangkan mahasiswi disamping saya tetap berlagak kalem seperti halnya saya namun wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan atas perbuatan mereka mengintimidasi kami. Dia memasang headset dari balik jilbabnya, mungkin udah gak tahan kali ya?. Tapi yang ada para pendekar kesiangan ini masih jugaa berkoar-koar, ampun dah.

Kurang kerjaan banget kalian mengepung halte yang hanya ada dua mahasiswi junior berwajah polos, sedang kalian memungut sampah daun, terus memaksa kami mendengar sindiran tak berdasar.
Sebelum mereka beranjak dari fakultas kami ke fakultas yang lain,  salah seorang mahasiswa yang sudah sangat senior dan sambil menghisap rokoknya menunjuk ke beberapa partisipan cewek yang masing-masing ada membawa karung kecil, kantong plastik berisi sedikit sampah dan daun, dan sapu lidi. Mereka juga tak kalah songongnya. "Lihat lah mahasiswi-mahasiswi ini! Mahasiswi pilihan yang hatinya tergerak untuk berbakti pada lingkungan bla bla bla.."

Okay disini saya sudah tidak tahan tpi sebelum saya berdiri mereka semua sudah berbalik, bergegas menuju fakultas selanjutnya, mungkin nasib korban selanjutnya akan berakhir sama. Haha.
Saya tidak suka meng-underestimate orang lain yah. Tapi kali ini mereka memang berlebihan. Saat mereka membanggakan junior cewek yang ikut aksi, saya sendiri yakin mereka bukan typical seperti itu. Selain dari penampilan yang terlalu perlente, mereka sebenarnya hanya mejeng di rombongan berkarung.

Itu saya simpulkan dari tangan bersih mereka dan isi karung yang tak seberapa,
artinya semangat mereka memungut sampahnya masih kurang
.
Setelah badai benar-benar berlalu, mahasiswi di sampingku pun melepas headsetnya.
"Kamu pernah baksos peduli lingkungan juga nggak?" Tanyaku pada mahasiswi yang sampai sekarang tak kuketahui namanya. "PERNAH SIH YA, TAPI GAK GITU JUGA", haha kami hanya tertawa mesem-mesem. Dia menambahkan "pengertian bakti sosial di dalam pikiran mereka mungkin berbeda"
Yah. Mungkin.
Kalau menurut kamu pribadi gimana?
Bakti sosial adalah bentuk pengabdian kepada lingkungan sosial, terutama kalian mahasiswa agen perubahan, memang untuk meng-influence masyarakat kita perlu turun lapangan dan menunjukkan aksi nyata. Tapi jika sudah seperti tadi? Seakan tak rela jika usaha baksos pungut sampah yang kalian lakukan di bawah terik matahari tidak kalian tunjukkan kpd orang lain. Kalian mau perhatiin lingkungan atau minta diperhatiin orang sih?

Bagaimana dengan saya sendiri?
Oh kalau saya sih ada jalannya tersendiri.
Tapi akhir-akhir ini memang lagi sering aksi sosial.
Iya, akhir-akhir ini kan? *colek kalian 😝😄



Love this Baymax and Hiro fanart. Totoro bus stop parodies