Monday, 13 November 2017

Sudut yang Asik Untuk Nongkrong Sendiri di Kampus 2 UIN Alauddin Makassar




Sesupel-supelnya atau segaul-gaulnya seseorang , terkadang kita butuh yang namanya kesendirian. Menjauh dari hingar bingar massa. Dan ini manusiawi. Karena manusia selain makhluk sosial, juga merupakan makhluk individu.

Meskipun tidak lama, menyendiri memberikan apa yang tidak bisa didapatkan dari kerumunan: ketenangan. Sebagian orang menyendiri karena sedang jenuh atau banyak pikiran. Sebagian lain karena sedang mengerjakan sesuatu yang menyita fokus seperti membaca atau melukis. Sebagian lagi menyendiri karena orang itu dari sononya memang suka sendiri *eaaa

Kalau saya? Kalau saya sih selalu menyendiri setiap hari, terutama saat mandi, buang air, atau tidur. YAIYALAHHH.
Memangnya harus menyendiri supaya tenang? Bukankah berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang disayang kita bisa tenang, damai, dan bahagia?
Jadi ya sendiri belum tentu berarti menutup diri. Sendiri bisa saja karena waktunya untuk sendiri. Azek.

Ini, saya kasih daftar beberapa tempat untuk nongkrong tenang di kampus 2 UIN Alauddin Makassar, siapa tau kalian butuh. Kalau tidak butuh, close tab mi ki’ sekarang dende astaga gampangji toh.




1.     Perpustakaan

Perpustakaan memang tempat paling top saat harus menghabiskan waktu seorang diri. Karena tempatnya yang meski ramai pengunjung, tetap senyap. Kadang ada sih suara-suara kedengaran, terutama suara mahasiswa sedang diskusi sambil bisik-bisikan. Tapi masih bisa dimaafkan kok, kalau kalian tidak suka, move ke sudut lain lah, gak usah komplain kalau cuma begitu, perpus kan luas men. Jangan mi serius dudu.
Kelebihan utamanya, di perpus kita bisa baca buku atau sekadar numpang hotspot bagi para fakir kuota.



2.     Halte
Ada juga kok orang di halte cuma numpang duduk meski tidak sedang menunggu. Mau menunggu siapa? Menunggu abang datang meminang? Nanti ajalah, tunggu adek wisuda dulu hahaha
Kalau mau menyendiri di halte lebih syahdu, bisa sambil membaca buku, menggambar, atau sambil main game online (Hayday! Hayday!)






3.     Gazebo Fakultas
Kalau sedang tidak ramai oleh kerumunan mahasiswa, gazebo ini bisa jadi pilihan. Bisa kerja tugas kampus pakai wifi fakultas, membaca, menulis, main rubik, blogging, menghitung orang yang lalu lalang pakai baju merah, atau apa kek yang penting jangan melamun. Salah-salah bisa kerasukan, kan nggak lucu.




4.     Parkiran
Parkiran juga biasa menjadi pilihan. Kenapa bede? Karena di parkiran ada pohon mangganya, kalau berbuah kan lumayan bisa sukki-sukki enak hahaha. Ada lagi, nongkrong sendirian di parkiran bisa menciptakan peluang, pel-uang bro. Iya, mengumpulkan uang parkir. Tapi bohong, tidak boleh ada pajak parkir. Kau mau didemo mahasiswa?

Sekadar mengingatkan, tolong jangan kaccaki stiker di motor, mobil, atau helmnya orang, menyebalkan sekali yang begitu *curhat -__-
Mengertilah stiker itu ada filosofi dan kenangannya masing, bahkan juga pernyataan ideologinya orang, jadi jangan diganggui nah.


 
hati-hati dengan ranting yang rapuh, hati-hati juga dengan hati yang rapuh, uhuy.


5.     Taman Kampus
Taman, meskipun ramai, tetap bisa dinikmati sendiri. Tidak usah kepedean sekali bakal ada yang mengganggu. Setiap orang disana menikmati urusannya masing-masing. Spot paling strategis tentu saja di bawah pohon yang rindang. Apalagi ada beberapa penjaja cemilan dan minuman ringan.






6.     Pelataran Masjid
Pelataran atau beranda masjid bisa menjadi pilihan juga untuk menyendiri karena tempatnya yang sejuk dan tenang. Bisa menunggu waktu sholat sambil ngaji, dengar khotbah atau baca buku, Subhanallah.






7.     Gedung CBT
Gedung CBT (singkatan dari Character Building Training) merupakan gedung yang diperuntukkan untuk kegiatan CBT, sesuai namanya.
Gedung CBT ini cukup luas dan adem karena konstruksi gedungnya yang memungkinkan angin masuk. Kalian bisa memilih mau duduk ngeleseh di dalam atau di teras, terasnya ada di kiri kanan bangunan. Bagusnya di gedung CBT ada beberapa colokannya, tempat wudhu, dan tentu saja tempat sholat. Karena gedung ini juga digunakan untuk  sholat Jumat.







8.     Balkon Fakultas
Gak mau repot keluar fakultas, soalnya masih ada kelas, di luar cuacanya terik sekali atau lagi hujan, atau lagi nunggu dosen, di balkon fakultas juga bisa lah. Eh ini sudah betul gak sih disebutnya balkon?
Tidak ada colokan disini, tapi enaknya bisa liat pemandangan dari atas sini, haha makan tuh pemandangan.







9.     Pinggir Lapangan
Lumayan, di pinggir lapangan, dilindungi pohon-pohon. Wah asik, mungkin ada inspirasi nyangkut.
Iya asik, asal tidak hujan, asal tidak ada angin kencang berdebu, asal tidak ada orang main bola. Mau kena bola?





 
10.  Tolong, Jangan di Tangga
Meski jarang terjadi, hal ini terus terang bisa mengganggu kenyamanan orang lain saat ingin melewati tangga. Kalau badan kecil sih bisa dimaafkan, kalau badannya besar banyak makan tempat? Belum lagi jika ada barang yang digeletakkan di badan tangga, dan bisa saja orang yang lewat tidak memperhatikan dan kemudian terinjak.
Belum lagi kalau yang duduk-duduk di tangga itu satu pasukan, betul-betul menghalangi lalu lintas pertanggaan.

Jadi sebenarnya di mana pun bisa jadi tempat yang menyenangkan, asal tidak mengganggu orang lain atau merusak fasilitas kampus.

Terakhir, jangan terlalu sering sendiri!




*Tulisan ini kemarin saya temukan di laptop. Ditulis saat masih semester 3 tahun 2015.

Saturday, 23 September 2017

Semester 7

Tepat setahun lalu, ketika akan memasuki semester 5 setelah cuti akademik di semester  4, aku tidak henti-hentinya berharap setahun itu segera kulalui. Ingin cepat-cepat semester 7. Dan ketika kakiku sudah berdiri di titik ini, rasanya seperti berlari telanjang kaki. Aku merasakan setiap pijakan berbatu, berpasir, kemudian berlumpur, tapi mataku tidak banyak melihat.

Kurasa lebih baik jangan berlari terlalu kencang, atau berjalan terlalu lamban. Nikmati setiap langkah. Lewati yang tidak perlu, amati yang baru.

Terakhir, ada satu hal yang benarbenar kuinginkan. Ditemani ceritamu hingga semester penghabisan.


Samata, 23 September 2017, setelah satu hujan panjang reda.

Tuesday, 29 August 2017

Perempuan, Jaga Diri Kalian

Saya sangat sedih membaca salah satu artikel di Line Today kemarin. Sangat sedih sekaligus sangat marah. Ada kasus tewasnya seorang gadis yang baru menginjak usia 21 tahun, di tangan pacarnya sendiri. Tragisnya, ia dibunuh dalam keadaan hamil 6 bulan setelah menagih tanggung jawab sang pacar⎻pelaku pembunuhan. Di mana kemanusiaan si pelaku?

Saya sampai bingung menjelaskan perasaanku. Kenapa? Bagaimana bisa ia sampai hati melakukannya? Membunuh seorang perempuan. Dan janin dalam rahimnya⎻yang juga merupakan anaknya.

Kita semua pasti menyimpan komentar seperti, ”bodoh sekali perempuan itu”, atau “si lelaki mau enaknya saja”. Ya memang seperti itulah mereka-mereka di mata kita. Korban dan pelaku sama saja bodohnya.

Kenyataannya sampai saat ini, perempuan masih terjebak dalam marjinal yang luhur. Bagaimana mereka membiarkan diperlakukan oleh dominasi, dan bagaimana mereka juga memperlakukan sesama perempuan dan diri mereka sendiri. Emansipasi biasanya  lebih diteriakkan kencang dalam urusan mencari kerja dan uang.

Beberapa bulan lalu, saya sedang di perjalanan pulang dari bekerja. Saat itu jalanan pukul 9 malam sangat ramai karena ada festival Ramadhan dan juga orang-orang yang pulang dari shalat tarwih. Beberapa meter di depanku, ada seorang perempuan yang kukenali sebagai adik kelasku di SMK. Ia, sudah beberapa minggu mengenakan jilbab syar’i, dibonceng vespa oleh pacarnya. Karena ingin menyapa, maka kulajukan motorku sejajar dengan mereka. Tapi niatku untuk menyapa mereka kutahan. Saya bingung. Meskipun berjilbab syar’i tidak bisa dihubungkan dengan akhlak seseorang, tapi bukankan itu berarti saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab panjang menutupi dirinya, ia ingin melindungi dirinya?  Tapi apa yang coba ia lindungi, jika dibonceng dengan pacar dengan posisi memeluk erat seperti anak kecil yang takut jatuh dari motor?

Perempuan, adalah makhluk penakut sekaligus pemberani.
Ia berani melakukan fantasinya tapi tetap tidak berdaya jika diperhadapkan dengan ancaman resikonya.

Masih bimbang, sepertinya tulisan ini cukup sekian.


Makassar, 29 Agustus 2017, setelah uap terakhir di cangkir teh pupus.

Monday, 3 July 2017

Takut



Malam tadi aku berfikir tentang ketakutan. Kupikir,  setiap orang punya ketakutannya masing-masing. 

Malam, berlaku untuk sebagian orang, adalah waktu mereka akan merasakan ketakutan-ketakutannya. 
Adik sepupuku takut kala malam akan melihat yang "lucu-lucu".
Ibunya,  takut anaknya ketakutan.
Mendengar cerita tante dan sepupuku, adikku ikut-ikutan takut keluar malam sejak itu. 

Tapi takut tidak mengenal waktu dan tempat.
Teman SMP-ku dulu, sebut saja W pernah histeris sambil berjingkat di atas kursi karena.. seekor laba-laba kecil. Iya,  laba-laba kecil yang dulu kalian ambil trus sengaja disodok-sodok di pergelangan tangan, biar digigit dan berubah jadi mutan keren seperti Spiderman. Takut itu seperti perasaan suka, ya, kan? relatif.

Ada juga temanku yang takut makan ikan lagi setelah tersedak tulang ikan. Bukan cuma ikan, pokoknya makanan seafood ia tak mau sentuh.

Beda dengan ketakutan akan materi, ketakutan yang sesungguhnya adalah takut yang muncul dijemput oleh prasangka. Misal rasa takut karena kecintaannya pada dirinya. Jenis ketakutan itu akan mendorongnya melindungi diri. Perlindungan diri semisal pencitraan.
Ah, aku jadi teringat postinganku yang sebelumnya perihal pencitraan si fulana :(
Aku tidak suka dengan muka duanya. Lantas sadar aku juga tidak suka ideku untuk menulisnya dalam postingan sebelumnya.

Tadi kubilang setiap orang punya ketakutannya masing-masing, ya, kan? 
Akhirnya aku tahu takutku. 

Aku takut tumbuh dewasa menjadi wanita tua menyebalkan. 

Monday, 26 June 2017

Pencitraan



Percayalah aku menulis ini tidak disertai perasaan apapun. Dan lagi, yang kubahas di sini bukannya orang yang penting di keseharianku. Dari sini kalian sudah bisa menyimpulkan apakah tulisan ini cukup penting atau tidak. Tapi karena sudah terlanjur di sini, jadi kulanjut saja.

Aku sangat tidak suka dengan orang yang terlalu banyak pencitraan. Seperti kuah sayur bening yang diberi banyak-banyak micin. Aku kira hanya di kehidupan sekolah saja akan banyak ditemui sosok bureng (pemburu ranking, istilahnya begitu). Tapi menjelang semester tua sosok bureng itu terefleksi begitu halus, begitu licin, dan mengecoh. Aku punya cerita, di kelasku, cewek berinisial K ini contohnya. Aku tidak bilang aku membencinya, hanya saja, setiap dia bertingkah, ada rasa-rasa menggelikannya.

Iya, sebenarnya dari jaman maba aku tahu si K ini tipe orang ambisius, tapi  ia cukup pemalu. Pemalu yang ambisius. Oke ini positif, tapi tidak jika tindak tanduk ambisiusme ini sudah jauh dari tanah. Entah ia beruntung, karena hanya aku dan beberapa orang yang tahu amisnya si K.

Beberapa minggu yang lalu, ada beberapa postingan si K di instagram. Ya, bukan satu tapi beberapa foto dirinya dengan caption yang intinya menyampaikan seperti ini; si K capek kerja tugas terus, apalagi kalau itu tugas kelompok. Dia mengeluh, kenapa yang namanya kerja kelompok harus selalu ia kerjakan seorang diri.  Tapi di saat yang sama ia memberitahu bahwa untunglah ada pacarnya yang membantunya mengerjakan tugas itu. Di postingan lain ia juga beberapa kali menyinggung teman kelompoknya (bukan aku) yang katanya tidak punya perhatian pada tugas kelompoknya. Wah, sungguh usaha pencitraan dengan menghitamkan citra orang lain.

Kalau ia memang adalah orang yang ‘peduli’ seperti apa yang ia katakan, maka yang lebih baik ia lakukan adalah menjapri teman-teman kelompoknya atau berdiskusi di kelas. Bukan dengan singgungan di sosmed. Haha siapa aku ini berpikir kaudengarkan.
Mungkin secara kasat si K ini cewek polos, tolong jangan judge seseorang dari tampilan luarnya, haha. Sudah berapa kali ia melakukan gerakan bawah tanah untuk menjatuhkan orang  lain.

Pernah suatu waktu di grup Line ramai, anak-anak kelas berdiskusi tentang wujud tugas analisis film (makul Media & Literature) dan tugas lain-lain. Lalu ada seorang anak yang bertanya pada si K apakah tugas lain-lainnya sudah selesai, si K hanya menjawab belum ia kerjakan, bahkan tugas analisis filmnya belum ia sentuh, katanya. Padahal ya aku tau ia berbohong, tugasnya sudah selesai. Meski dikerjakan oleh pacarnya. Pacar si K ini adalah salah seorang senior di fakultas. Dan mengingat bagaimana si K berpacaran dengan si  senior, cukup menggelikan.

Aku baru tiba di kelas, saat ia langsung duduk di sebelahku dan berbisik. Ia menceritakan bahwa dua hari yang lalu ia resmi berpacaran dengan si senior. Aku hanya tertawa. Baru kemarin ia bilang bahwa ia dilema karena menyukai dua senior yang berbeda. Ia pacaran meski saat itu juga ia mengaku bahwa dirinya mudah untuk jatuh cinta pada cowok. Katanya, pacarnya itu rahasia, dan aku tidak usah cerita ke orang-orang. 

Aku memang tidak pernah bilang ke siapa-siapa. Tapi beberapa minggu kemudian ia mempublikasikannya sendiri di semua sosial medianya. Semua foto profilnya berganti menjadi foto si senior. Geli sekali. Aku tahu ia sangat senang akhirnya bisa disukai salah seorang senior. Publikasi di sosmed sendiri adalah strategi terbaik yang ia manfaatkan untuk mendongkrak perhatian atau ehmm popularitas. Karena entah ia ingat atau tidak, ia dulu sering bertanya padaku “bagaimana ya caranya jadi populer dan disukai?”, “bagaimana cara dikenal banyak orang?” atau “bagaimana ya rasanya pacaran dengan senior populer?”, yah haha aku ingat sekali. Si K berpacaran dengan senior dan postingan-postingannya di sosmed semoga bisa menjawab semua ambisi si K. Semoga saja ia sadar bahwa pencitraan dengan menjelek-jelekkan orang lain ada efek sampingnya.

Tuesday, 16 May 2017

Pesta Pendidikan 2017



Two days ago, I went to the public festival, Pesta Pendidikan that held on 13th to 14th of May in Fortress Rotterdam. Had been there after intricately persuaded any friends of mine until one that fine enough to realised how they would be thankful for coming there :p

As I seen on the news about this event, Makassar is the forth city after Bandung, Ambon, and Jogjakarta. And the highlight of the event took place in Jakarta next month.

The event held in two days, but unfortunately I did not attend the first day, because.. should I find another reason except there is no one can accompanied me there? Yahaha. I really could go there by myself, by motorcycle, but I still have not my licence yet to go that far. And to go by bus would take too many time. Ugh.



It was 1 pm when I arrived at Benteng Fort Rotterdam.





There were many children who have just finished their performance. The closing ceremony was in afternoon, 5.30 pm for specifically. But I only can stay there at least until 4pm Description: 😩

So I decided to enjoyed my 3 hours efficiently. Uwuwu. Katakerja was the first booth I stopped by. I bought a roll of yarn and saw some books. I really want to buy one, especially Salinger's book, but I have to control the current finances. Hikz.



After that I started looking for good position, under the tree (ofcourzzz) to read. There are so many good books on the shelf that you can read. I took ryu murakami's coin locker babies book, sat down, and started reading.

Soon I regret for not bringing the picnic or what supplies, lunch box or something. What the hell am I thinking before leaving? Description: 😪



I think the best part of that day is when I meet some people. It feels good. I met some old friends, and also someone I recognized in social media but would not know me back if I did not dare to say hello first!




Really hope with this public festival, Pesta Pendidikan, will be a momentum for the government and people of Makassar city, all of us, to advance the main education, to grow reading interest and to eradicate the case of children drop out from school.